September 22, 2017

Sleep Paralysis: Bertemu Doppelganger Adik.

Sleep Paralysis, kebanyakan orang menyebutnya "ketindihan". Ketindihan setan atau jin. Bermacam-macam spekulasi orang mengenai Sleep Paralysis ini. Pasti fenomena ini sering terjadi pada semua orang, tak terkecuali penulis sendiri.


Oke, lama ngga nge-blog karena kehabisan ide mau nge-blog tentang apa, dan akhirnya biar blog ngga sepi-sepi amat, gue mulai isi dengan fenomena "Ketindihan" yang sering gue alami ini. Fenomena Sleep Paralysis ini terjadi ketika kita sangat kelelahan, kurang tidur atau jadwal tidur normal yang terganggu. Well, kenyataannya pun penulis memang butuh memperbaiki jadwal tidur karena akhir-akhir ini kurang tidur.


"Bertemu Doppelganger Adik"
Yak, selama "Ketindihan" ini gue mengalami pengalaman bermimpi yang menakjubkan. Gue seakan dibawa ke ruangan terang lalu dibawa lagi ke ruangan gelap hingga akhirnya gue bertemu dengan sosok laki-laki yang gak asing wajahnya, yaitu Adik gue. Tapi anehnya, si "Adik" ini tidak bergeming saat dipanggil. Kemudian muncul sosok "Adik" lainnya yang sedang sembahyang. Saat itu-mungkin setengah sadar-gue merasakan jantung berdebar-debar dan nafas yang terengah-engah. Ketika melihat Adik dan doppelgangernya, di mimpi itu gue mengira si doppelganger itu roh adik gue yang terlepas, dan meminta dia untuk kembali ke tubuh aslinya. Tapi setiap gue mendorong si doppelganger ke tubuh adik gue, dia selalu terpental. Dan gue melihat sosok-sosok aneh di sekeliling dia. Nggak lama kemudian, gue merasakan ada seseorang yang menarik tangan dari belakang dan menjauhi adik bersama doppelgangernya. Dibawa terbang tinggi, semakin tinggi hingga bisa melihat diri gue yang sedang tidur di kasur. Lucid Dream? Entah, gue masih belum paham fase-fase bermimpi ini.


Dalam keadaan setengah sadar, gue bisa merasakan seluruh tubuh jadi kaku. Bahkan saat itu gue coba untuk berteriak tapi gak ada suara yang keluar tapi di dalam mimpi gue bisa mendengar suara teriakan sendiri hingga bergema. Aneh. Aneh rasanya. Setelah itu tubuh gue jadi ringan, mata bisa terbuka, seluruh tubuh bisa digerakkan. 


Aneh. Pikir gue. 


Ketika mata terbuka, hal pertama yang gue lakukan adalah menggapai ponsel dan melihat jam. 


01.59 am.


Baru satu jam lebih memejamkan mata, tapi pengalaman Sleep Paralysis ini rasanya kayak udah berjam-jam. Gue gak berani memejamkan mata lagi, karena takut masuk ke dunia mimpi aneh itu dan takut "ketindihan" lagi. Bahkan saat coba kembali tidur, gue merasakan ada banyak yang memerhatikan di kamar. Juga merasakan hawa dingin tepat di punggung gue. Mungkin karena AC. Dan akhirnya sebelum kembali tidur gue baca-baca surat Al-Qur'an yang gue hafal dan doa sebelum tidur. Alhamdulillah, gue bisa kembali tidur dengan nyenyak.


Hal-hal yang harus dilakukan sebelum tidur, banyak-banyak berdoa agar tidur nyenyak kalian tidak terganggu. Dan, istirahat yang cukup agar tidak mengalami Sleep Paralysis atau "Ketindihan".




**ini cerita memang nggak penting sih, tapi sengaja dipost biar gak lupa dengan fenomena dan mimpi aneh yang gue alami ini





-The End-

March 6, 2014

Bullying dan Gangster

Bullying itu memiliki arti menggertak, seseorang yang menganggu orang yang lemah. Tapi, bullying disini lebih mengarah ke kekerasan, penindasan, intimidasi dan lain sebagainya.

Sebenernya agak susah ya menjelaskan apa pengertian dari bullying atau bully itu. Bila melihat dengan mata kepala sendiri, kita bisa mengerti apa maksudnya, tapi sulit untuk menjelaskan dengan kata-kata. Intinya, menurut gue bullying itu tindakan seseorang yang merasa dirinya itu paling hebat, kuat dan dengan serta-merta menganggu orang yang lemah. Dan korban yang menjadi bahan bullying ini, akan mengalami rasa sakit tidak hanya fisik, tetapi sakit pada mentalnya.

Biasanya mereka yang dibully memilih diam dan tidak melakukan apa-apa.

Keliatannya sok tau ya gue. Tapi itulah pemahaman gue soal bully-bully-an. Dan gue juga pernah mengalami kejadian ini sekitar 9 tahun yang lalu, ketika gue masih SMP.
Begini ceritanya...

Karena udah lama, jadi gue lupa-lupa inget gimana kejadian awalnya. Yang gue inget, ada satu geng di kelas gue, ternyata mereka itu udah temenan dari SD-kalo ngga salah-. Nah, gue juga temenan sama salah satu dari anggota geng itu sebut saja Euis. Yah, namanya juga geng, pasti ngga suka dong kalo salah satu anggotanya maen sama orang lain selain temen-temen segengnya. Lantas aja, gue ditindas sama mereka. Beruntung mereka ngga melakukan kekerasan terhadap gue, ya cuma nyindir-nyindir kadang ngelabrak. Gue akui, gue cewe yang lemah, makanya gue bersyukur mereka ngga ngelakuin hal-hal yang bikin salah satu organ tubuh gue rusak. Tapi tetep... Sakit. Iya, sakit mental gue. Garagara itu gue jadi sangsi pergi ke sekolah.

Lagi-lagi, gue beruntung, meskipun gue ngga diterima oleh gengges itu, masih ada yang mau terima gue sebagai temannya. Yaaa itu, si Euis itu dan teman-teman sekelas lainnya. Tapi, gue kasihan sama Euis ini, karena dia dijauhin sama teman-teman segengnya ini. 

Kepisah di tahun kedua, pada tahun ke-tiga kita dipertemukan lagi. Saat itu gue dan para gengges ini bisa temenan baik-akhirnya-. Kemana-mana bareng mereka, begitu juga dengan Euis. Mereka berteman baik lagi dengan Euis. Suatu hari, sang kepala geng ngajak gue untuk bergabung dengan mereka. WOW! Bocah SMP polos emang, gue terima ajakan itu. Selama gue gabung, berasa dianggep kacung men! Masih polos kali ye, jadi gue nyantai aja. Kalo diinget-inget tuh ya, aduh! Bego banget lah.. Kenapa baru nyesel sekarang? Yaaa, bocah polos, pikirannya tuh yang penting gue punya banyak temen, segeng, keren!!! *WTF!!*

Oh iya, ternyata geng di SMP gue dulu itu ada banyak loh. Setiap mereka bertemu pasti adu jutek-jutekan, sinis-sinisan, perang mulut, dan berakhir tampar-tamparan. Serem ya dunia per-geng-an itu?? Sebenernya gue masih bingung, apa sih yang mereka ributin? Cowo? ASTAGAAAAAAAH!!

Lanjut..

Saat udah beberapa bulan gabung sama cewe gengges ini, lagi-lagi gue dijauhin sama mereka karena mereka tahu kalo gue temenan sama geng sebelah-sebut saja geng "Akhir Pekan"-. Jelas dong gue bisa temenan dengan mereka, waktu kelas dua, gue sekelas dengan salah satu anggota geng "Akhir Pekan" ini. Dan gue akui, mereka emang baik sama orang-orang. Keren. Lebih keren daripada cewe-cewe gengges ribet itu. Selama gue berteman dengan geng "Akhir Pekan" ini, sama sekali gue ngga ngeliat adanya penindasan, kekerasan antar anggota geng mau pun dengan geng-geng lain. Dewasa? Mungkin mereka lebih dewasa. Makanya geng ini yang paling terkenal di sekolah gue. Dan, bisa jadi para gengges musuhin gue karena gue berteman dengan para anggota "Akhir Pekan" yang populer dikalangan siswa dan siswi saat itu.

Cibiran, sindiran terus menghujani kehidupan SMP gue oleh cewe-cewe ribet ini. Setiap gue lewat di depan muka mereka, adaaaaaaaaaa aja yang mereka omongin tentang gue, adaaaaaaaaa aja celaan buat gue. Yaaa, yang gue dibilang "sok kecakepan" lah, "kerempeng" lah, "sok pinter" lah, blablablablah!! Tapi karena gue berpikir saat itu gue udah berada di tahun terakhir, jadi gue anggep itu cuma angin. Toh, setelah lulus, gue gak bakal ketemu mereka lagi. Gue bisa merasakan waktu yang amat sangat panjang pas kelas tiga. Ditambah konflik, bullying dari cewe-cewe gengges ini. Wuih, makin panjaaaaaaaaaaaaaaaaang waktunya. Penindasan mereka terhadap gue pun menjadi-jadi. 

Dulu gue pernah masuk ke ruang BP, hmmm, kalo gak salah mereka-para cewe gengges- itu berantem soal handphone deh. Mereka bilang salah satu diantara mereka ada yang ngambil handphone si kepala geng. Oh iya! Bener! Soal handphone. Gue ngeliat anggota mereka ada yang punya handphone yang kebetulan sama kayak kepala gengges. 

Di ruang BP, ada gue, dua cewe gengges (yang satu saksi, yang satu pelaku), wali kelas dan guru BP. Di dalam ruangan itu, gue dimintai kesaksian sejelas-jelasnya. Tapi gue seakan didesak oleh satu cewe gengges yang juga jadi saksi-sebut saja Neneng-. Gue seakan-akan disuruh memojokkan pelaku, tapi caranya nyakitin, si Neneng nyubit paha gue. Masalah selesai, karena si pelaku akhirnya mengakui kesalahannya. Wali kelas menyuruh mereka kembali kelas dan menahan gue untuk tetap berada di ruang BP. DEG!!!! Kaget, Shock! Apa salah gue? Kan gue udah ngasih kesaksian dengan jelas.

Begitu dua cewe itu pergi, wali kelas gue langsung bertanya "kamu kenapa?". WIDIIIIIIIHH!! Gue merasakan angin segar berhembus di sekitar ruangan itu. Diam. "akhir-akhir ini ibu perhatiin kamu ngga sama mereka lagi. ada apa? berantem ya?" WOW!!!! Ini wali kelas tergalak tapi ternyata begitu perhatian sama murid-muridnya. KEREN!!! Tanpa berpikir panjang langsung gue ceritain dari awal sampai akhir. Wali kelas gue dan guru BP mendengarkan dengan seksama. Tiba-tiba bapak guru BP ini mukul meja sambil bilang "itu namanya kamu dibully. ditindas. dikerjain sama mereka." Mereka menyuruh gue balik ke kelas dan memanggil cewe-cewe gengges tersebut. Entah apa yang akan mereka sampaiin ke cewe-cewe rempong itu.

Beberapa hari berikutnya, menjelang persiapan UN, diadakan sosialisasi dari Kepsek, Wakepsek dan Guru-guru. Sebetulnya sosialisasi UN namun pada akhirnya pembahasan jadi meluas, bukan cuma soal UN tapi soal pem-bully-an juga. Kaget ya, soalnya yang ngomong itu guru BP dan dilanjutin oleh wali kelas gue. Yang kemudian semua siswa dari kelas lain langsung nengok ke arah kelas gue. Cewe-cewe gengges lantas nunduk, malu. Begitu sosialisasi selesai, cewe-cewe gengges ini dengan berlinangan airmata nyamperin gue dan meminta maaf. Ditengah-tengah kerumunan cewe-cewe itu dan ditengah-tengah isak tangis mereka, gue cuma bilang "iya udah, gapapa.. kalian udah gue maafin kok" padahal dalem hati gue "hahahaha, emang enak! rasain loh!" Hahahaha.. 

Akhirnya, kita berteman dengan baik lagi tanpa adanya bully-membully. Dan gue bisa melewati masa-masa(akhir) SMP dengan tenang, lulus dan yang paling penting buat gue... ngga ketemu dengan mereka lagi. 


Bagi gue, pengalaman tersebut merupakan pengalaman yang menyedihkan buat gue. Karena gue selalu ngerasa ngga ada satu orang pun yang mau berteman dengan gue. Apapun yang gue lakuin selalu membuat orang lain merasa terganggu, hingga akhirnya gue ditindas, dibully, dan dijauhin. Tapi, gue juga sadar, dalam keadaan apapun, masih ada orang yang ternyata memperhatikan gue, yaitu wali kelas gue, Euis, dan teman-teman lainnya. Rasa sakit mental masih terasa sampai gue lulus SMP. Beruntung, ketika gue duduk di bangku SMA, gue bertemu dengan orang-orang amat sangat baik. Biasanya gue diem-diem aja waktu SMP, akhirnya gue bisa tertawa lepas selepas-lepasnya bersama teman-teman SMA gue. Ngga cuma SMA, sampai kuliah saat ini pun gue masih bisa tertawa selepas-lepasnya bersama teman-teman baik gue.

Rasa sakit mental itu lah yang membuat gue berpikir kalo gue pun ternyata pernah mengalami pem-bully-an meskipun tidak separah di luar sana.

--SEKIAN--





Dari gue, buat kalian..

Udah lah, buat apa sih maen geng-gengan kalo tujuannya cuma untuk menaikkan pamor atau kepopuleran kalian? buat apa sih maen geng-gengan kalo tujuannya hanya untuk menyakiti orang yang kalian anggap lemah? Apa untungnya kalian membully? Apa kerennya kalian menindas orang-orang lemah? Berteman yang biasa-biasa aja, ngga usah bikin geng. Toh suatu saat geng kalian akan terpecah belah dengan sendirinya. Suatu saat orang yang kalian bully akan menjadi orang yang lebih kuat dan hebat dari yang kalian bayangkan.



--SALAM AMATEUR--

January 18, 2014

Gengsi Dong!

"Hey, what's up, dude?"
"I always love the way you loving me, honey"
"Smile you don't cry"

Itu hanya beberapa penggalan bahasa Inggris yang biasa gue denger di film, lagu bahkan sosmed (yang kebetulan followers gue itu kebanyakan orang Indonesia)
Gue mau ngebahas mengenai 'bahasa'. Kenapa? Ya, sebenernya ini juga bisa jadi pembelajaran buat gue juga sih. Ngga ada maksud mau menghujat, menyalahkan, apalagi menuntut mereka yang menggunakan bahasa Inggris atau bahasa luar lainnya, tapi gue hanya sekedar memberikan pendapat dan mengingatkan akan bahasa ibu sendiri.

Baiklah, kita mulai...
Kenapa gue ngebahas ini? Karena beberapa waktu lalu, gue dan temen-temen gue sempat mendiskusikan hal yang menarik dan memotivasi. Yang kita bahas waktu itu adalah soal orang Jepang yang memiliki tingkat ke-gengsi-an yang tinggi. Gengsi akan hal apa? BA-HA-SA.

Mungkin sebagian dari kita udah pada tahu ya kalo orang Jepang itu ngga bisa berbicara atau ngobrol bahkan ngerumpi dan ngegosip pake bahasa Inggris, bahasa Latin dsb. Sebenernya ada, tapi hanya segelintir orang aja yang bisa, malah jago banget bahasa asingnya (yang dimaksud bahasa asing itu bahasa selain Jepang). Mengapa? Why? Karena mereka ngga mau mempelajarinya. Loh, kenapa tidak? Why not? Karena mereka bangga dengan bahasa mereka sendiri yaitu bahasa Jepang atau Nihongo (kalo diartiin ke Jepangnya)

Kebanyakan mereka menolak untuk menggunakan bahasa Inggris, meskipun mereka pernah mempelajarinya di sekolah. Bahasa Jepang selalu mereka gunakan tiap hari. Mereka akan merasa senang jika ada orang asing menggunakan bahasa mereka. Yah, sama seperti kita, orang Indonesia. Kita pasti bakal seneng banget kan kalo ada orang bule, orang Cina, atau orang Korea mengatakan "Terimakasih"; "Aku Cinta Kamu"; "Selamat Malam" dll.

Nah, dari hasil diskusi kita tersebut buat gue menyadari satu hal, orang Jepang aja gengsi kalo ngobrol menggunakan bahasa selain bahasa mereka sendiri, sedangkan kita? Justru kita sebaliknya. Gengsi kalo ngga bisa ngomong pake bahasa Inggris, Jerman, Prancis, Jepang, Korea, Tagalog dsb. Kita beranggapan kalo ngobrol pake bahasa asing itu keren, status lo dimata orang kayaknya jadi tinggi, keliatan pinter, cerdas, cerdik, tangkas, rajin menabung dan tidak sombong. Gue juga sempet beranggapan seperti itu, tapi setelah gue mempelajari budaya orang Jepang yang dikenal kental banget, gue jadi sadar kalo ternyata orang Indonesia jauh lebih tinggi tingkat ke-gengsi-annya kalo soal bahasa.

Oke, bahasa Inggris memang bahasa Internasional. Tapi itu untuk di dunia internasional bukan untuk di negara kita. Bahasa Inggris kita gunakan kalo ada orang asing yang berkunjung ke negeri kita kemudian ngobrol-ngebrel bareng, intinya bahasa Inggris itu ada untuk menghubungkan seluruh manusia di dunia yang memiliki ragam bahasa. Kayak Indonesia, mempunyai bahasa kesatuan yaitu bahasa Indonesia, untuk mempersatukan bangsa Indonesia yang memiliki beragam suku, budaya, dan bahasa. Jadi bahasa Inggris bisa dibilang bahasa kesatuan Dunia Internasional.

Agak miris sih sebenernya, tiap kali ada anak-anak (baru) gaul di negeri ini casciscuscescos pake bahasa Inggris ke temen sepergaulannya, bahkan dicampur-aduk, bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris kayak gado-gado biar didengernya lebih keren. Ngga apa-apa sih, tapi kan tetep aja alih-alih biar kedengerannya keren malah disambit orang gara-gara eneg dengernya. Sedih. Lama-lama bahasa Indonesia dijambret juga sama negara tetangga karena kita lengah, begitu terlena dengan bahasa asing yang semakin lama semakin mendunia di Indonesia, contohnya yang saat ini lagi booming itu Hangeul? Hangel? Hangul? Ya, bahasa Korea Selatan lah pokoknya.

"Emang apa salahnya kita belajar bahasa asing? Bukankah kita harus bisa menguasai beberapa bahasa di luar bahasa Indonesia? Kita jadi pinter kan kalo belajar bahasa asing?"
Ngga ada salahnya kok belajar bahasa asing, karena kita memang diharuskan bisa berbahasa Inggris-terutama- karena itu adalah bahasa global, bahasa dunia. Kalo suatu saat lo harus pergi ke Amerika atau negara-negara yang menggunakan bahasa Inggris tapi lo ngga bisa, sama siapa lo mau nanya? Apalagi kalo lo pergi ke negara yang ngga lo ngerti bahasanya dan ngga bisa memakai bahasa Inggris, mau ngapain lo disana? Bahasa Inggris atau bahasa lainnya dijadikan sebagai bekal ketika kita berhadapan langsung dengan dunia luar (internasional bukan dunia alien), global. Oleh karena itu kita harus bisa menguasai beberapa bahasa asing terutama bahasa Inggris.

Nyokap gue dari dulu selalu bilang "meskipun sekarang kamu lagi belajar bahasa Jepang, jangan dilupain bahasa Inggrisnya karena itu bahasa internasional, bekal nanti kalo berhubungan langsung dengan orang asing."

Kita tinggal di Indonesia, men. Bukan tinggal di negeri orang, kalo itu beda lagi ceritanya. 
Budaya kita dirampas sama negara sebelah aja kita marah, tapi kenapa kita ngga bisa mempertahankan budaya kita sendiri? Kenapa kita ngga bisa menjaga budaya dan bahasa kita sendiri? Ngga lucu kan kalo bahasa Indonesia dihak-patenkan oleh negara tetangga? Inget isi Sumpah Pemuda, kan? Nah, gimana kalo dari sekarang kita coba mengikuti kebiasaan orang-orang Jepang yang bangga dalam menggunakan bahasa mereka di kehidupan sehari-hari. Jangan dicampur-aduk macem gado-gado lah, kecuali buat lucu-lucuan aja dan itu ngga terlalu intens. Semakin sering mencampur-adukkan bahasa, semakin aneh dan norak didengernya.

Kita harus bisa memamerkan bahasa Indonesia dimata dunia, agar bahasa Indonesia semakin dikenal dan semakin baaaaaaaaaaaaaanyak orang asing yang berbondong-bondong datang ke Indonesa untuk mempelajari budaya dan bahasa Indonesia. Dan tanamkan rasa gengsi-kalo ngga make bahasa Indonesia-itu di dalam diri kita.



Saran dan kritik amat sangat dibutuhkan untuk membangun postingan ini. Terimakasih.

Salam Amateur :)

January 17, 2014

It's Been Long Long Loooooong Time

Selamat Tahun Baru 2014!!! (udah lewat sih, tapi it's better late than never, kan?)

Uwah! Udah lama ngga nulis disini. Kangeeeeeeeeeeeen~ sama blog-ku!!
Banyak kejadian-kejadian yang gue alami sepanjang tahun 2013 tapi ngga gue share di blog ini, karena...
1. asik sama twitter
2. banyak tugas kampus yang numpuk (apalagi sekarang gue udah tahun terakhir kuliah.. yeah, welcome, skripsh*t!)
3. kegiatan bareng temen-temen (nonton, ngerumpi, nongkrong, dll)
4. mengkhayal sesuatu yang selalu gue khayalkan semenjak SMA (pergi ke Jepang)
5. kemudian gue lupa sama blog ini deh~

Yah, gue cuma mau bilang, SELAMAT TAHUN BARU 2014!
Semoga tahun ini gue bisa ngisi blog ini lagi sambil skripsian. Pokoknya semoga dikasih kelancaran dalam mengerjakan skripsi gue nanti. AAMIIN..

あけましておめでとー

January 1, 2013

Tahun Baru Dan Harapan

It's been a long time and i'm back again in this blog~

First of all, HAPPY NEW YEAR 2013...

"Apa harapan lo di tahun yang akan datang?"

Setiap menjelang akhir tahun, pertanyaan itu yang akan selalu lo temuin dimana aja. Di televisi, di radio, di mass media (mungkin) bahkan di social network sekali pun. Jawabannya pun beragam dan unik. Ada yang harapannya itu cepet lulus sekolah/kuliah (gue juga, amiin), ada yang harapannya itu bisa membahagiakan kedua orang tua, ada juga yang harapannya itu minta hubungannya langgeng sama pasangan, dan banyak lagi. Ya itulah harapan dari bermacam-macam orang di dunia ini. Intinya, berharap supaya bisa menjadi manusia yang lebih baik dan berguna.

Gue juga punya harapan, yaitu menjadi manusia yang lebih baik lagi dan berharap semoga masih dikasih waktu panjang sama Allah supaya gue bisa ketemu malam seperti ini lagi di tahun-tahun berikutnya.
Itu aja sih, gue ngga minta lebih untuk tahun ini. Kalo berlebihan, takut ngga kecapai. Karena menurut gue, jika kita terlalu berharap lebih akan sesuatu, tapi ketika harapan itu tidak tercapai pada waktunya, pasti kecewa meskipun udah berusaha semaksimal mungkin. Aaaaahh, sok tau! Hahahaha mungkin itu cuma ke-sok tau-an gue (LOL!)

Ngomong-ngomong soal harapan nih, ada ngga sih yang berharap sesuatu yang buruk? Yah, contohnya berharap semoga-sebut saja si A ngga naek kelas atau semoga si B dikejar-kejar monyet gila atau mungkin ada yang lagi galau gara-gara gebetannya ditikung orang terus berharap semoga yang nikung kena tikung juga atau ada yang berharap cewe atau cowo kesukaannya cepet-cepet putus dari pacarnya atau bahkan harapannya lebih ekstrim lagi, semoga si B mati ditengah jalan pas mau buang air kecil atau mati ketabrak odong-odong. I guess no one did it. 

Yah, itu sih yang dari dulu gue pikirin. Kita selalu menulis suatu harapan yang baik di Twitter atau Facebook atau dimana saja itu. Dan gue ngga pernah ngeliat status orang yang berharap keburukan bahkan sampai kematian seseorang satu pun.

Kita mana pernah tau sih apa yang ada di dalem otak manusia? Lagipula ngga mungkin juga kita mengharapkan sesuatu yang buruk apalagi harapan buruk itu di-update di Social Network, bisa rame entar mention lo. Di Twitter nulis semoga si A umurnya panjang atau semoga tahun ini si A bisa naek kelas, yang baik-baik yang di-update di twitter, tapi kenyataannya mah sebaliknya. Nulis, mudah-mudahan si Y langgeng sama si Z, padahal dalem hatinya "berantem kek berantem! cepetan putus kek, biar gue bisa jadian sama dia!" Apakah ada yang seperti ini? Kalo ngga ada yang pernah seperti ini, WOW mulia sekali hati andaaaa~

Kalo boleh jujur, gue akui kalo gue pernah kayak gitu. Nulis suatu harapan yang baik untuk seseorang padahal dalem hati sebaliknya. Bahkan gue juga pernah membuat sumpah serapah untuk seseorang yang kurang gue suka di social network. Ya, gue pernah kayak gitu. Apa yang lain juga pernah? Kalo sama sekali ngga pernah, berarti gue satu-satunya orang yang paling menjijikan di dunia. Berpura-pura mendoakan tapi dalem hati malah nyumpahin.

Yaaaa itu dulu, udah lewat. Sekarang pikir-pikir dulu kalo mau membuat suatu pengharapan di twitter terutama. Apa lo ngga akan marah jika harapan yang lo tulis di twitter diremehin sama orang lain? Apa lo ngga akan kesel dibilang "munafik"? Yaa, mending kalo mau membuat suatu harapan yang menurut lo ngga perlu ditulis di social network, mending ngga usah. Hindari itu. Kecuali kalo lo anggap itu perlu ditulis dan dipamerkan, just do it then. That's your choice, that's your life.

Yaah, itu aja sih yang mau gue share di tahun baru ini. Just remember, ini adalah blog gue, jadi gue bebas menulis apa saja disini. Jika ada tersinggung, mohon maaf lahir dan batin.



Kritik dan saran, bahkan komentar amat sangat dibutuhkan untuk postingan ini.

Salam AMATEUR~

October 14, 2012

Diam Itu Ngga Selamanya "Emas".

Pokoknya kalo Adinda kesini, kamu harus ngobrol sama dia.
Itulah kalimat perintah yang dilayangkan oleh nyokap sebulan sebelum sepupu gue yang dari Belanda dateng untuk liburan.

Belanda. Dutch. Man! Haruskah gue belajar bahasa Belanda sedangkan bahasa ibu sendiri masih belepotan?? Pikir gue saat itu. Ternyata nyokap bilang kalo sepupu gue ini bisa bahasa Inggris, jadi ngobrolnya pake bahasa Inggris aja. Maaaaaaaaaak~ seandainya kau tahu bahwa aku gagap bahasa Inggris, pasti kau akan sangat malu! Jujur, dulu gue emang jago bahasa Inggris, tapi kalo untuk ngobrol pake bahasa Inggris, bah! Asli, ngaco pisan!!

"Udah, asal casciscus aja. Gak usah terpaku sama grammar. Dia juga ngerti kok." kata emak.

"Aduh, mah.. Neng udah lama ngga belajar bahasa Inggris semenjak lulus SMA.." membela diri.

"Salah sendiri. Kenapa ngga dipelajarin lagi. Heh, bahasa Inggris itu, bahasa internasional tauk!!" ceramahnya. Gue cuma bisa diem, ngga tau harus jawab apa lagi. Nyokap selalu punya banyak alasan kalo kita berdua udah berargumentasi.

Sebulan sebelum kedatangan sanak famili dari negeri kincir angin itu, gue nyoba untuk mempelajari lagi itu bahasa yang katanya bahasa internasional. Yang gue sok-sokan ngetwit di twitter pake bahasa Inggris lah, sok-sokan ngobrol sama temen gue, tapi ngga berhasil karena kepala gue pecah duluan saat ngobrol sama dia yang ternyata Englishnya lebih fasih dibanding gue. 

Anjrit! Kenapa gue jadi dongo gini sih? Kenapa Inggris gue jadi tolol?! benak gue berkata.
Sebulan belajar ngga ada hasil, akhirnya gue pasrah. Gue udah ngecewain emak. Gue ngga bisa menjaga kepercayaan emak. Maaaak, maaf mak, anakmu udah ngga bisa berbuat apa-apa lagi.

Hari yang ditunggu pun tiba.
Dari pagi sampai sore, nyokap berjibaku di dapur, mempersiapkan hidangan yang ala kadarnya untuk sepupu-sepupu gue ini. Gue sesekali bantuin, ya kalo ngga nyuci piring, bantu nyicipin masakan, jagain makanan yang udah jadi biar ngga dicolong sama kucing-kucing gue. Bokap, kakak sama adek gue sibuk bebenahin rumah.

Begitu selesai, sepupu gue ini yang katanya bakal dateng pas buka puasa biar sekalian makan malem, ternyata ngaret. Gue pikir ngga jadi dateng. Waaaaah, gue udah seneng banget saat itu! Ngga jadi dateng, berarti gue selamat! Ngga perlu mikirin ntar gue ngobrol apaan sama sepupu bule gue ini. Dengan perasaan yang senang dan hati yang riang gembira, gue masuk ke kamar. Buka netbook, dan kembali memasuki dunia fangirl.

Jarum jam menunjukkan angka 8. Makin kuat aja dugaan gue, kalo sepupu gue ini ngga jadi dateng. Batal. Cancel. Gara-gara macet abis dari Ragunan ke Bekasi, terus karena capek di jalan akhirnya minta pulang aja. Gue tersenyum lebar selebar-lebarnya saat itu.

Terdengar suara mesin mobil di luar rumah. Positive thinking aja gue, paling mobil tetangga depan rumah gue. Tiba-tiba...

"Assalamu'alaikum!!!!" sapa uwa gue dari luar.

 "Wa'alaikumsalam~" jawab nyokap gue seneng.

Dari dalem kamar gue bertanya-tanya, itu kenapa uwa gue yang dari Semper yang dateng? Katanya tante gue beserta keluarganya yang dari Belanda? Oh ternyata tante gue ini baru pertama kalinya ke rumah semenjak gue sekeluarga pindah ke Bekasi 10 tahun yang lalu. Dan kebetulan uwa dan tante gue ini emang udah janjian rekreasi ke Ragunan terus singgah sebentar ke Bekasi untuk nengok emak gue disini.

ARRRRRRGGHH!! Mereka datang! Bahaya! Bahaya! pikir gue panik sambil jambak-jambak rambut saking stressnya. Akhirnya gue tutup netbook dan naik ke tempat tidur. Aha! Gue pura-pura tidur. Pura-pura ngga menyadari akan kehadiran mereka. Pura-pura tidur sampai mereka pulang. Di ruang tamu mereka lagi salam-salaman, ngga lama kemudian..

"Rima, mana 'da?" tanya uwa ke nyokap.

"Di kamar paling.." jawab nyokap sambil membuka pintu kamar gue.

"Neng, ini ada Made sama tante Nai. Tidur mulu.."

"nnnnggh..." gue yang saat itu sok-sokan ngulet, padahal sama sekali ngga tidur langsung bangun dari tempat tidur sambil ngedumel. Sebelum keluar gue rapihin rambut dulu biar keliatan rapih dan kece dikit. Begitu gue keluar kamar... mampus loh! Ada 2 orang bule di rumah gue.. lagi-lagi benak gue berkata. Dengan senyuman yang udah gue progress, gue nyium tangan uwa, tante, sepupu-sepupu yang lain. Gue ngeliat adek sepupu gue yang namanya Adinda ini. Haduuuh, mati lah lu, rim.. Mana Inggris lo gagap, dia kurang bisa bahasa Indonesia pula.. Apa yang mau diobrolin?? kepala gue muter saat itu.

"Ini Adinda neng.. Salaman dong.." nyokap nyuruhnya tuh kayak nyuruh anak kecil. Oke, gue berjabatan tangan dengan Adinda sambil tersenyum.

"Ini om Ian. Masih inget gak?"

"Hmmm, iya inget.. inget.." sambil jabatan tangan sama oom Ian, bokapnya Adinda.

"Hello, Rima." sapa om Ian.

"Hello.." jawab gue sambil tersenyum garing.

Gue lupa om Ian ini ngomong apa, intinya dia kaget banget ngeliat gue udah gede. Terakhir ketemu waktu gue masih tinggal di Jakarta, dan itu gue masih kecil banget, umur 4 tahun. Mungkin karena baru pertama kali ketemu, Adinda masih rada aneh sama gue. Atau emang gue nya yang beneran aneh yah? Entahlah.

Tiga keluarga berkumpul di ruangan yang ukurannya tidak terlalu besar. Ngobrolin blahblahblahblah, nanyain blahblahblah dan gue hanya diam mendengarkan apa yang mereka obrolin, sesekali ngomong itupun kalo ditanyain aja. Bener-bener jaim gue saat itu. Bukan jaim juga sih sebenernya, karena gue ngga tau apa yang mau diomongin aja, sama bule lagi kan ngobrolnya. Sampai akhirnya nyokap negur..

"Neng! Bukannya diajak ngobrol Adinda nya.. Diem aja.."

Gue cuma cengar-cengir ngga jawab apa-apa..

"She's a little bit shy, huh? Hahahaha" kata om Ian.

Bukannya shy, om.. ngga tau mau ngomong apaan.. Inggris gue cetek! jawab gue dalem hati.

"Tau lo, diem aja.. Ngobrol dong sama Dinda!" ini lagi abang gue ngompor-ngomporin, pengen banget gue gorok lehernya.

Kembali keluarga besar ini ngobrol, gue sama sekali ngga tau lagi ngomongin apa. 3 bahasa menjadi satu, Indonesia, Inggris dan Belanda. Wahahahahaa gue pusing dengernya. Sayang, ngga ada subtitlenya kalo ada pasti gue ngerti apa yang mereka omongin. 3 bahasa dicampur udah kayak gado-gado. Mbo'ya kalo mau ngomong pake bahasa Indonesia atau Inggris aja gitu, jangan dicampur bahasa Belandaaaaaaaa! perang batin loh gue dengernya.

Jam menunjukkan angka setengah 10 malam.
Waktunya pulaaaaaaaang~ Yeaaaaaah~ akhirnya penderitaan ini berakhir sudah. Capek loh diem terus, cuma ngomong secukupnya aja gue. Yang tadinya tante gue ini berangkatnya nebeng sama mobil uwa gue, akhirnya mereka misah, uwa gue pulang duluan. Bokap gue dengan ramahnya menawarkan jasa untuk mengantar keluarga bule ini kembali ke hotel. Dengan senang hati, mereka menerimanya. Mau naik apaan lagi? Taksi? Susah kalo udah di komplek rumah gue, jarang lewat. Masa iya disuruh naik angkot. Tau jalan juga ngga.

Tiba-tiba firasat gue ngga enak..

"Kakak yah yang nganterin.." pinta bokap ke abang gue.

"Oh, yaudah gapapa.. Rama tau ini kok hotelnya.."

"Kamu tau tempatnya?" tanya tante gue.

"Tau kok tau.." jawab abang gue penuh antusias.

"Yaudah, tapi kamu jangan sendirian. Sama eneng gih.. Neng, temenin kakak yah?" pinta bokap lembut.

Nah, bener aja kan firasat gue! Pasti disuruh nemenin abang gue, dengan alasan takut ada apa-apa sama kakak gue. Alamaaaaaaaaaak! Padahal gue pengen langsung tidur begitu mereka pulang. Pengen nolak juga ngga enak, ngga punya alasan yang kuat juga. Dengan pasrah gue jawab "iya".

"Oh, are you coming with us?" tanya om Ian seneng.

"Yeah, i'm coming with you all" akhirnya~ gue mengeluarkan bahasa Inggris juga! Hahahaha, tapi cuma segitu doang yang gue bisa. Oh maaaaaaan! Cetek secetek-ceteknya deh Inggris gue. Payah!

Sepanjang perjalanan menuju hotel di bilangan Sudirman, lagi-lagi gue cuma bisa diem sambil dengerin mereka ngobrol di mobil. Ya ngobrol pake bahasa Belanda, bahasa Inggris. Kadang-kadang tante gue nanya ini-itu, dan gue cuma jawab seadanya aja. Canggung, takut salah ngomong, takut keliatan begonya gue.
Sesampainya disana, mereka pamitan sama gue dan kakak gue sambil cipika-cipiki.

"Rima, thank you so much. We'll meet again next time." kata om Ian.

"Yeah, om.. You're welcome.." cieeeeeeeee gue mengeluarkan English lagi.

"Terimakasih.." ucap Adinda sambil tersenyum manis.. Aaaaaah, nyesel gue diem aja daritadi.. pikir gue.

Selepas kepergian mereka. Gue tersadar, seandainya gue ngga pake malu-malu dan ngga perlu takut salah sama bahasa Inggris gue yang belepotan, mungkin dari awal ketemu gue sama Adinda bisa ngobrol banyak. Kalo gue diem gitu aja kan, ngga enak juga sama dia. Yah itu salah satu sifat gue. Tertutup. Pendiem. Gue cuma mau ngobrol kalo ada yang ngajak ngobrol, atau kalo lawan bicara gue ini punya hobi atau kesukaan yang sama. Lagi-lagi ego yang gue gedein.

Pelajaran yang gue ambil dari pengalaman ini adalah mencoba untuk lebih berani berbicara dengan orang lain, mengeluarkan pendapat, dan kalo bisa dipelajarin lagi bahasa-bahasa asing yang sedang gue pelajari sekarang. Bener kata nyokap, ngga perlu disesuaikan dengan grammar atau ejaan yang baik dan benar, selama lo bisa berbahasa asing, dan lo ngerti kenapa ngga dicoba? Asal casciscus aja, mereka juga pasti ngerti. Tapi tetep gunakan bahasa yang sopan, apalagi ngobrol sama orang luar. Yah, sampai sekarang pun gue masih belum berani untuk menggunakan bahasa yang sedang gue pelajari, yaitu bahasa Jepang. Karena gue masih takut, masih gagap, takut pola kalimatnya salah. Namanya juga bahasa. Kita ngga akan pernah bisa kalo ngga kita praktekin langsung. Kalo cuma pelajarin teorinya doang, ngga akan maju.

Semoga setelah gue menulis cerita ini, gue bisa belajar lebih baik lagi supaya bisa maju. 

Bahasa itu penting. Tanpa bahasa kita ngga akan pernah bisa berkomunikasi baik dengan orang lain.




Sekian..


Salam AMATEUR!

October 12, 2012

"Go Green" They Say (Polusi Udara)

Sebelumnya gue pernah membahas tentang "sampah" yang merajalela di negara ini, terutama di Jakarta yang memiliki penduduk lebih banyak dibanding daerah-daerah lain di Indonesia.

Kali ini gue mau membahas tentang polusi udara atau pencemaran udara.
Seperti yang kita ketahui ozon sudah mulai menipis karena polusi udara. Itu adalah salah satu dari penyebab global warming yang terjadi di bumi ini. Nah, polusi udara sendiri terjadi karena asap-asap kendaraan yang dikeluarkan selain penggunaan pengharum ruangan yang berlebihan, dan asap rokok.

Kita mulai dari kendaraan dulu.

Akhir-akhir ini kendaraan umum dan pribadi menjadi salah satu kebutuhan masyarakat untuk bepergian. Entah untuk rekreasi, ke kantor, ke kampus, buat mudik dan lain-lain. Dari tahun ke tahun, jumlah pengendara semakin bertambah, ditambah kualitas dari kendaraan itu sendiri yang semakin canggih. Salah satu kendaraan yang paling banyak digunakan adalah motor dan mobil pribadi-bukan angkutan umum.
Setiap hari selama 24 jam, motor-motor dan mobil-mobil berlalu lalang, ditambah kopaja dan metromini yang asapnya bisa ngebul kalau udah ngeden-diinjek pedal gasnya maksudnya. Setiap hari selama 24 jam, di negeri tercinta kita ini, khususnya di Jakarta yang penduduknya paling banyak.

Bukan oksigen lagi yang kita hirup, tapi gas karbondioksida dan gas-gas lain yang dapat merusak ozon bahkan merusak kesehatan kita. Bahaya. Kalau setiap hari yang dihirup adalah gas-gas beracun seperti itu, bisa mati lebih cepat. Kenapa? Ngerusak paru-paru. Belum lagi yang punya penyakit asma akut atau penyakit-penyakit lain yang berhubungan dengan paru-paru. Memang sih, ada obatnya atau pake masker. Tapi bagi gue itu semua ngga cukup. Mau lo minum obat 3 kali sehari, atau setiap saat, tapi kalo yang lo hirup setiap hari gas-gas yang dikeluarin dari "perut" kendaraan mah sama aja boong! Pake masker juga, belum menjamin lo tercegah dari asep-asep "nakal" itu.

Untuk kesehatan aja itu udah bahaya banget loh asap-asap kendaraan itu. Belum lagi buat lapisan ozon bumi kita. Kalau ozon makin menipis, makin berbahaya juga buat kehidupan di permukaan bumi. Bisa-bisa musnah duluan. Kenapa? Kita tau kan, bumi ini dilindungi oleh para ozon dari "serangan-serangan" benda asing dari luar angkasa. Ketika benda itu mengarah ke bumi, begitu mereka melewati lapisan ozon, benda itu akan hancur lebur duluan menjadi partikel-partikel yang kecil sebelum menabrak kita. Maksudnya bumi kita. Jika lubang pada ozon semakin besar karena gas-gas dari bumi, ngga menutup kemungkinan benda-benda asing dari luar bumi bisa melewati lapisan ozon dengan cepat. Ditambah, gaya gravitasi di bumi ini sangat besar, makin cepet kali yah benda-benda asing itu menabrak bumi. Contohnya yang pernah kita lihat di berita beberapa tahun yang lalu. Gue lupa di daerah mana, pokoknya isi beritanya itu sebuah daerah kejatuhan benda asing. Semacam komet atau meteor kecil-kalo gue salah, mohon diralat yah- Itu baru yang small size loh. Gimana yang large sizenya? Atau mungkin ada yang ukuran extra large nya??

Ya intinya, semenjak masalah polusi ini, banyak iklan-iklan dan pemerintah mengajak kita untuk lagi-lagi mencintai lingkungan. Yaitu dengan cara, kembali ke kendaraan umum atau bersepeda. Selain menanam seribu pohon di daerah yang kurang penghijauannya. Ide yang bagus, pak! Tapi apakah ajakan itu berhasil dilakukan oleh masyarakatnya? Yah, bisa kita lihat sendiri sih sebenernya. Hanya beberapa masyarakat saja yang mau kembali ke kendaraan umum ataupun bersepeda. 

Padahal ajakan itu manfaatnya banyak loh. Dengan menggunakan kendaraan umum, kita jadi lebih santai-bukan untuk urusan waktu yah- santai dalam arti, kita ngga perlu capek-capek nyelip sana nyelip sini, banting kanan banting kiri, tarik gas tarik rem. Kita cuma duduk diem sambil baca buku, kalau lo emang demen baca buku. Lagipula ngga mungkin juga kan nyetir mobil atau motor sambil baca buku. Yah, emang ada enak dan ngga enaknya naik kendaraan umum. Ngga enak karena keamanannya yang kurang. Seringkali terjadi tindakan kriminal di terminal atau bahkan di dalam kendaraan umum itu sendiri. Itu salah satu penyebab kenapa masih ada beberapa orang yang masih enggan untuk naik kendaraan umum. Gue juga sih, termasuk orang yang takut kalau naik kendaraan umum sendirian. Tapi kalau rasa takutnya kita manjain, yaa kita jadi anti-kendaraan umum dong?

Selain itu kendala dari menggunakan kendaraan umum, mungkin waktu kali yah? Di saat kita lagi ngejar waktu biar ngga telat ke kantor, sekolah atau kampus, eh, si tukang angkotnya ngetem dulu sampe penumpangnya penuh. Ya, itu sih sebenernya untung-untungan. Kalau lo dateng pas penumpangnya udah penuh, bisa langsung jalan, tapi kalo angkot masih sepi cuma 1 atau 2 orang, yaa mau ngga mau lo menunggu atau ngga naek ojek biar cepet. Ojek juga termasuk kendaraan umum loh ya. Kecuali kalau yang bawa motor itu babeh atau emak atau abang lo atau nebeng sama temen lo. Itu beda lagi.

Kendaraan umum itu ada banyak kok. Ada angkot, bus patas ac, metromini atau kopaja-setau gue, metromini atau kopaja udah gak boleh dipake karena asap knalpotnya yang luar biasa kotor dan bau- terus ada kereta, transjakarta, taksi-kalau duit lo banyak- ada ojek, becak yang "agak" murah. Terus apa gunanya kendaraan umum itu sendiri kalo ngga digunakan sama masyarakatnya? Lama-lama jadi pajangan di jalanan aja itu sih.

Oke, mungkin ini jauh dari topik kita. Polusi Udara. Tapi coba deh kita bayangin, jangan dipikirin dulu deh. Dibayangin aja dulu. Kalau warga di kota Jakarta dan sekitar khususnya, mau memanfaatkan kendaraan umum untuk sekedar ke kantor atau sekolah atau kampus, pasti jalanan di Jakarta ngga akan sepadat sekarang dan pasti jauh dari polusi udara. Ini untuk yang di Jakarta dan sekitarnya. Kalau yang kantornya diluar Jakarta, it's okay lah pake kendaraan pribadi, tapi coba sekali-kali naik bus atau kereta. Naik kendaraan umum itu asik kok sebenernya. Selama lo ngga mikirin yang buruk-buruknya aja.

Selanjutnya sepeda.
Nah, ini juga sebenernya salah satu cara yang efektif selain terbebas dari polusi udara, terbebas dari macet, dengan bersepeda secara ngga langsung kita juga berolahraga. Naik sepeda ke kantor atau ke sekolah atau ke kampus misalnya, berapa kilogram lemak yang terbakar saat lo mengayuh sepeda? Capek sih, tapi itu salah satu cara untuk memulihkan kembali oksigen di udara yang tercemar karena asap-asap kendaraan.

Di Bekasi, gue udah melihat jalur khusus pengguna sepeda. Gue belum lihat aja yang di Jakarta. Mungkin sudah dibuat jalur untuk pengguna sepeda.

Gue sendiri belum pernah nyoba mengayuh sepeda dari rumah sampai kampus. Tapi sekedar bersepeda di area komplek rumah sih pernah *ketawa licik*. Kenapa? Daripada bersepeda, gue lebih memilih menggunakan kendaraan umum. Badan gue udah kerempeng, makin kerempeng ntar. Bukan lemak yang dibakar, tapi daging gue mungkin yang dibakar-ngga juga sih sebenernya-. Karena gue udah enak aja naik angkot. Tanpa memikirkan keamanannya.

Kalo emang capek mengayuh sepeda, ya dicoba aja memanfaatkan kendaraan umum di luar sana.
Kalo masih takut, ya minta dianterin aja sama babeh, emak, abang, adek, ncang atau ncing lo di rumah.
Kalo ngga ada yang bisa nganterin, nebeng aja sama temen lo yang bawa motor atau mobil.
Kalo ngga punya temen, yaudah ngekost aja di deket kantor atau kampus lo.
Kalo ngga diijinin ngekost sama orang tua lo, bilang, gue yang nyuruh! *siapa gue?*

Inti dari tulisan ini sebenernya, gue mau ngajak kalian untuk kembali ke kendaraan umum. Merakyat dikit gapapa dong? Artis-artis yang di luar negeri aja, gue ambil contohnya Jepang, banyak tuh yang berkeliaran di luar sana, di kendaraan umum, seperti di kereta. Ngga hanya artis, tapi masyarakat Jepang sendiri lebih memilih menggunakan kendaraan umum dibanding kendaraan pribadi mereka. Paling mereka pake kalo emang mau liburan sekeluarga. Itu juga jarang. *berdasarkan cerita dan penelitian dari dosen-dosen gue*

Jadi, ngga ada salahnya kok kita coba, selama kita punya niat dan tujuan untuk mencintai lingkungan, kenapa ngga? Ya kan :)

Bukannya mau sok tau sih, tapi tulisan ini sesuai dengan apa yang gue rasain akhir-akhir ini. Apa salahnya sih berbagi pendapat? Mungkin diantara kalian ada juga yang merasakan hal yang sama dengan gue soal polusi udara di sekitar kita.

-Saran, kritik dan ralat amat sangat dibutuhkan dalam penulisan ini, terimakasih :) -



Sekian.

Salam AMATEUR!

October 10, 2012

Disini Ngga Ada Banci~

Yahoo~ kali ini gue ngga menceritakan apa yang gue alamin hari ini. Tapi gue mau menceritakan sesuatu yang menurut gue lucu, entah buat kalian lucu atau ngga. Please take a seat belt and enjoy this story.

Ini cerita berdasarkan apa yang gue denger dari dosen gue tadi sore.
Dosen gue yang satu ini selalu mempunyai cerita-cerita yang menarik dan seru untuk didenger, apalagi yang dia ceritain adalah pengalamannya selama kuliah di Jepang. Pasti yang dia ceritain yaaaaa temen-temennya yang di Jepang, kebiasaan-kebiasaan orang Jepang dan sebagainya.

Tapi bukan kebiasaan-kebiasaan mereka yang mau gue ceritain disini. Melainkan kepolosan orang Jepang ketika tinggal di Indonesia.  Bukannya mau ngeledek, tapi emang kenyataannya seperti itu. Namanya juga orang luar, bukan orang Indonesia, belum paham betul dengan Indonesia.

Oke, langsung ke cerita aja kali ya..

Begini ceritanya..

Dosen gue loh yang cerita, jadi ini berdasarkan pengalaman dia, bukan pengalaman gue~~
Beberapa tahun yang lalu, dosen gue ini punya kenalan hmmmm bukan kenalan juga sih ya, dibilang temen iya, dosennya juga iya.. Saat itu, dosen gue ini masih duduk di bangku kuliah, nah kenalannya ini adalah seorang dosen di salah satu universitas di kota Bandung. Yap, beliau adalah orang Jepang. Katanya sih, beliau pernah jadi dosen tamu di kampus gue, tapi itu udah lama banget, gue belum kuliah saat itu. Masih SD kayaknya.

Singkat cerita. Beliau ini pernah dikerjain sama mahasiswa-mahasiswanya. Waktu itu beliau sempat nanya ke mahasiswanya, apa bahasa Indonesianya "nabe". Nah, nabe sendiri artinya panci dalam bahasa Indonesia. Inget yah, "nabe" itu "panci", kawan-kawan! Tapi emang dewi fortune lagi ngga memihak beliau sepertinya, mahasiswa-mahasiswa iseng itu menjawab, nabe itu... banci. BANCI. Dan dengan polosnya si dosen ini percaya begitu aja dengan jawaban mereka.

Satu hari, beliau pergi kemana lah gue lupa pas disini. Intinya, beliau mau beli panci.
Yah, beliau gunakanlah "banci" itu untuk membeli panci. 

"ada banci ngga?"

"kita ngga jual banci, pak.."

"ada banci ngga??"

"disini ngga ada banci, pak.."

Begitu terus yang beliau tanyain. Emang dasar iseng banget itu mahasiswa-mahasiswanya ckckckk. Sampai akhirnya ada salah satu penjual yang paham sama yang beliau maksud.

"maksudnya panci pak? ini?" sambil nyodorin panci-bukan banci yang dia sodorin-

"haaa, iya ini.. ini.."

"ini panci pak, bukan banci"

Dan dosen gue pun tertawa terbahak-bahak begitu menceritakan kejadian ini ke gue dan temen-temen ditengah perkuliahan. Segitu aja deh. Cuma itu yang gue denger ceritanya. Haha, garing yah? Bagi gue sih lumayan lah, kalo denger ceritanya sambil membayangkan wajah polos sang dosen Jepang saat itu..



Sekian. See you in the next blog!

October 9, 2012

First Time We Met...

Ini adalah cerita berdasarkan kejadian yang gue alamin, sekitar 2 atau 3 bulan yang lalu.

Kejadiannya berlangsung sangat singkat, namun sangat berarti buat gue. Dan gue ngga akan pernah melupakan kejadian yang paling berharga itu.

Tepat bulan puasa beberapa bulan yang lalu. Gue lupa hari, tanggal, dan jamnya. Yang jelas itu terjadi setelah buka puasa, sesaat setelah gue sholat Maghrib.
Entah maksudnya apa. Apakah ini adalah takdir dari Allah? Atau kah ini hanya sebatas kebetulan aja? Who knows lah ya~ Intinya, gue amat sangat senang!! Mungkin bisa dibilang norak yah..

Oke, langsung ke cerita.
Saat itu gue lagi khusyu' sholat maghrib. Bersujud menghadap sang Penguasa Alam Semesta dengan khusyu' mengharapkan sebuah pahala dariNya. Setelah itu, gue berdoa memohon ampun atas segala dosa-dosa yang gue perbuat, dan memohon keselamatan di dunia dan di akhirat kelak. Kegiatan ngga berhenti sampai disitu aja. Gue lanjutin dengan mengaji.

Masih di atas sajadah panjang, gue ngaji dengan penuh penghayatan. Dengan bibir yang bergetar, gue lantunkan ayat-ayat Qur'an secara perlahan. Mata gue hanya tertuju pada Qur'an. Saat itu.
Tiba-tiba gue seperti dapet sinyal, mata gue langsung mendapati sesuatu yang aneh di samping sajadah gue. CRIIIING! *sound efect kayak di anime-anime* Mata gue yang tadinya sayup-sayup karena kelelahan, langsung melek seketika. Berbinar-binar, kayak abis ngelihat setumpukan batang emas di depan mata.

"AHA!! Akhirnya!" benak gue.

"Akhirnya ku menemukanmu!!" gue langsung teriak, dan ngaji pun ke-skip.

Lalu, apa yang gue temukan sampai-sampai gue teriak girang seperti itu??
Gue menemukan serangga langka! Dengan warna merah-hitam, dan ekor seperti kalajengking.
AHA! Tomcat! Gue menemukan tomcat! Tomcat!! TOMCAT!!! Di kamar gue sendiri.. Dan gue bahagia sekali begitu melihat serangga ini.

Awalnya gue pikir itu cuma semut hitam gede yang jalan cepet itu, tapi kenapa ekornya begitu? Setelah gue amati baik-baik. Ternyata itu tomcat! Serangga yang akhir-akhir ini rame diomongin bahkan selalu muncul di layar kaca. Layaknya ketemu artis papan atas, gue pun berteriak menyerukan namanya..

"TOMCAAAAAAAAAAAAT!!! Ada tomcat di kamar gueeeeee~" sambil ketawa girang.

Begitu excited nya sampai bingung, harus gue apain ini si tomcat? Pengen gue tepok pake tangan, ntar gue kena ekor, terus kena racunnya. Aduh, bahaya. Pengen gue semprot pake semprotan nyamuk, tapi ada di kamar nyokap. Kalo gue keluar, ntar tomcatnya kabur. Gue ngga mau kehilangan moment-moment paling berharga ini dengan si tomcat!! Gue puter otak gue. Kemudian, gue liat jack kabel speaker di deket lokasi kejadian. Kebetulan speakernya nyala, otomatis ada aliran listriknya dong. Akhirnya, gue ambil kabel itu, terus gue tempelin jacknya ke tubuh mungilnya si tomcat.

TAPI! Ngga ada reaksi apa-apa! Si tomcat masih aja mondar-mandir buat nyari jalan keluar. Sedangkan gue masih asik nempel-nempelin jack ke badannya yang kecil itu. Yang ada dalam bayangan gue saat itu, begitu gue tempelin, si tomcat bakal kesetrum terus kejang-kejang. Nyatanya? Tidak sama sekali.
Hebat! Serangga ini ternyata sudah berilmu di Banten! *applause for it*

Gue bingung. Sambil terus nyetrum-nyetrumin si tomcat meskipun dia udah kebal, gue nyari-nyari benda apa yang bisa gue pake buat matiin si tomcat tanpa menyentuhnya dengan jari-jari lentik gue ini.
Kemudian, gue mendapatkan botol parfum di ajas meja. Buru-buru gue ambil parfum itu. Tanpa perlu basa-basi, tanpa mengeluarkan sepatah dua patah kata perpisahan, gue langsung nyemprotin parfum ke arah serangga itu berulang-ulang.

VOILA~!!
Dia tewas seketika. Hahahaha gue tertawa puas, namun dibalik tawa itu gue merasa sedih.. Bukan. Bukan karena parfum gue abis buat nyemprotin si tomcat. Tapi gue sedih ngeliat dia sudah terbujur kaku di atas lantai. Betapa jahatnya gue saat itu. Membunuh serangga yang sama sekali ngga menganggu gue. Benar-benar ngga bisa dimaafkan!! Siapa tahu dia lagi kesasar di kamar gue. Ya kan?
Tapi yaudahlah, itu sudah ajalnya.

Masih takut nyentuh, gue ambil jenazah tomcat itu dengan selembar tisu yang udah gue lipet-lipet.
Mau pamer ceritanya. Gue masuk ke kamar nyokap, dan ngasih liat ke nyokap yang juga lagi ngaji saat itu.

"Mah, liat deh. Tomcat!" sambil nyengir polos, kayak anak kecil yang ngga tau apa-apa.

Benerin posisi kacamata. "Emang ini tomcat? Kok kecil banget? Semut ini sih.." bantah nyokap sok tahu. 

"Yeee, tomcat ini mah. Tomcat tuh emang kecil. Ukurannya se-semut item yang gede itu. Liat dong ekornya, kayak kalajengking kan?" gue jelasin secara detil biar perdebatan tersebut dapat selesai dengan cepat.

"Ah, masa sih? Kecil banget.. Di tivi keliatannya gede banget.." bantah nyokap kali ini dengan wajah yang sangat polos. Oke, gue terdiam seketika entah mau jawab apa lagi.

"Itu kan tivi mah.." udah cuma gitu doang jawaban gue, saking shocknya denger bantahan nyokap.

"Terus mau kamu apain itu?" nah, ini dia pertanyaan yang makin membingungkan buat gue. Gue bingung, mau gue apain ini tomcat?? Udah mati, terbujur kaku diatas selembar tisu. Tadinya mau gue simpen di kotak bening, terus gue balurin balsem formalin ke tubuh jenazah tomcat ini, tapi berhubung gue gak punya balsem formalin, adanya balsem buat urut, gue urungkan niat itu.

"Ngga tau mah.." jawab gue singkat.

"Yaudah, buang aja. Mau kamu koleksi emang??" tanya nyokap gue.

Pengen jawab iya, tapi ntar dikira stress gue. Anak macem apaan ini, ngoleksi tomcat? Kurang kerjaan.
Dengan lemas, gue melangkahkan kaki keluar kamar.

"Buang ke got aja.." perintah nyokap.

APA?? Got?! Tega banget! Masa dibuang ke got? Kan bisa dikubur, di depan kan ada taneman, kubur aja di sampingnya.. Pikir gue. Tapi ya sudahlah, perintah nyokap ngga boleh dilanggar, harus diturutin. Dengan berat hati, gue bungkus si tomcat dengan tisu. Gue keluar dari rumah, dan membuang bungkusan tisu yang berisi jenazah tomcat ke got. Rasanya hati ini seperti disayat-sayat pake gergaji mesin begitu melihat jenazah itu hanyut terbawa arus got beserta tisu yang membungkusi tubuhnya nan mungil tersebut.

Sayonara, Tomcat. Semoga kau ditempatkan di sisi Allah SWT. Semoga kau tidur dengan tenang di alam sana. Selamat tinggal...



TAMAT

"Go Green" They Say (Sampah)

"Go Green"

Itu yang sering gue denger dan lihat di televisi, atau plang-plang di pinggir jalan.
Banyak iklan-iklan dengan menampilkan para model yang cantik sebagai ikon "go green"nya dan mengajak penonton di rumah untuk mencintai lingkungan.

Awalnya gue pikir "go green" itu maknanya mengajak kita untuk memakai pakaian serba hijau. Ternyata, persepsi gue salah! Dua kata itu mengandung makna, mencintai lingkungan, dengan cara yang paling mudah terlebih dahulu. Yaitu, membuang sampah pada tempatnya. Bukannya mau ngeremehin atau apa yah. Bukannya mau sombong juga. Gue setiap hari buang sampah pada tempatnya kok, tapi masih aja ngga "hijau" lingkungannya. Ternyata salah kaprah lagi gue. Ajakan itu bukan untuk gue aja, tapi seluruh warga Endonesah! Indonesia! 

Lingkungan ngga akan "hijau" kalau dari warganya sendiri ngga mau melakukan hal yang padahal gampang banget buat dilakuin. Gak mau bohong, yah gue juga terkadang suka buang sampah sembarangan, padahal jarak posisi gue dengan posisi si tong sampah itu gak terlalu jauh, paling 1 meter. Itu karena emang gue males bangun dari duduk gue aja (Jangan dicontoh yah, adik-adik...). Mungkin, setelah gue nulis ini, gue akan memulai semuanya dari awal. Membuang sampah pada tempatnya. TEMPATNYA! Insya Allah~ Kalo gue inget!

Terus, apa kabarnya sanksi-sanksi buat yang membuang sampah sembarangan? Masih berlaku atau ngga?
Mereka yang membuang sampah sembarangan di kali atau sungai atau selokan atau pinggir jalan, apakah mereka diberi denda yang katanya sekitar 2jutaan dan kurungan 2 bulan? Padahal itu yang lebih parah. Itu yang menyebabkan banjir dimana-mana.


Kalau setiap hari ada kurang lebih 10 orang yang buang sampah sembarangan per jamnya. Wah, bui makin sumpek. Bayangin, dibui karena sembarangan buang sampah, satu sel sama tahanan lain yang terjerat masalah yang lebih berat dibanding itu. Haduuuuh Takut? Iya.. Malu? Banget! Ngga mau juga kan, ngerogoh kocek 2jutaan cuma karena buang sampah sembarangan. Mending ditabung, buat nyicil sepeda yang belom lunas.

Yah, itu semua sih tergantung dari kesadaran warganya masing-masing. Kalau masih mau sembarangan buang sampahnya yaa terserah, asal jangan salahkan pemerintah lagi kalau tiap tahun Indonesia dilanda banjir terus-menerus. Tapi, kalau mau melihat lingkungan kita bersih, yuk mulai dari sekarang kita coba melakukan hal yang paling sederhana ini secara pelan-pelan. Saling menegur kalau ada yang masih sembarangan.


Sekian.


Salam, AMATEUR!

Greetings From The Amateur


Salah seorang teman telah menginspirasi gue untuk membuat suatu karya yang sudah lama ingin gue kerjakan.



Oh ya sebelumnya, perkenalkan.. Gue, seorang perempuan-bukan wanita, karena menurut gue 'wanita' itu untuk mereka yang sudah dewasa- dengan line 92. Pengkhayal yang kuat. Karena bagi gue, berkhayal itu lebih nikmat, lebih seru, lebih mengasyikkan dibanding dengan dunia nyata. Yah, memang ini bukanlah dunia nyata, tapi dunia maya. 

Oke, sudah cukup perkenalannya. Kita langsung ke pokok pembahasan, kenapa gue membuat blog ini? Sebelumnya gue juga punya blog, tapi itu hanya sekedar blog khusus seorang Fangirl yang isinya cuma sekedar artikel-artikel, foto-foto, video-video artis idola gue. Yap, gue adalah seorang fangirl. Fanatik? Entahlah. Mungkin fanatik. Tapi ngga tau juga. Intinya gue adalah seorang fangirl.

Balik lagi ke pokok pembahasan. Kenapa gue membuat blog ini?
Sebelumnya gue pernah membuat sebuah fanfiction, tapi ngga gue post ke web mana pun. Cuma sekedar mengoleksi fanfiction. Sempat gue ngepost satu cerita, tapi ngga gue lanjutin karena terlalu males. MALES
Dan akhirnya, setelah gue membaca blog temen-temen gue, dan membaca cerita dari salah seorang temen gue, i've got some inspirations! Gue jadi terinspirasi untuk membuat sebuah cerita fiksi lagi, pasca putus dari pacar gue (sedikit curhat, it's okay lah~)

Semenjak pacaran, pikiran gue hanya tertuju pada pacar gue. Namun, setelah gue putus, khayalan demi khayalan mulai masuk menghantui benak gue. Banyak ide-ide cerita, namun belum dapet inspirasi sama sekali untuk menuangkan ide-ide cerita yang udah numpuk di otak gue. Setelah bertemu dengan temen baru, dan ternyata dia adalah seorang penulis, api semangat jiwa penulis gue kembali berkobar!!

Finally, gue coba untuk memulai semuanya dari nol. Amateur. I'm just an amateur writer. Gue bukan pakarnya menulis suatu cerita, mau itu cerita fiksi ataupun non-fiksi. Disini gue masih belajar. Belajar menulis sebuah cerita yang-mungkin-menarik untuk dibaca. Jadi, tolong harap maklum kalau ada bahasa-bahasa yang rada aneh, ngga sreg, tak sedap dibaca, atau mungkin mau muntah bacanya. Namanya juga amatiran. Masih perlu banyak belajar.

Disini, entah apa yang mau gue ceritain di blog ini. Mungkin, apa aja akan gue ceritain disini. Mulai dari cerita fiksi sampai non-fiksi (berdasarkan kisah nyata). Yaa doakan saja, semoga umur gue panjang supaya bisa nulis cerita-cerita dari yang ngga penting sampai cerita yang-bagi gue-penting.

Well, yeah.. Segitu aja sambutan dari gue. Sampai ketemu lagi di blog gue berikutnya.


Salam, AMATEUR!!
*wussssssssssssss* *terbang dan menghilang*